news

Loading...

Friday, December 7, 2012

tugu


TUGU SIMPANG HARU

tugu-haru

Tugu ini berada di tengah kota Padang dan sering dijadikan acuan arah bagi masyarakat Kota Padang.
Sejarahnya, Tugu ini didirikan sebagai wujud penghargaan terhadap kaum perempuan. Bentuk tugu yang seperti tiga lidah api yang terdiri dari Bundo Kanduang atau Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik pandai ini, mengambil konsep dari tatanan adat Minangkabau, dimana perempuan menempati posisi yang setara dengan laki-laki.

TUGU SIMPANG TINJU

[a.jpg]
Tugu simpang tinju yang berbentuk kepalan tangan itu dibangun untuk mengenang wafatnya walikota padang yang ke dua BAGINDO AZIZCHAN 1910-1947. yang wafat di bunuh belanda di kawasan kandih.nanggalo. yang menurut para saksi mata yang menyaksikan kejadian persisnya Azizchan yang murid Agus Salim tersebut terjadi persis di tempat tugu itu dibangun.

salah satu kata-kata nya yang di kenal baik lawan (belanda) maupun kawan pada masa itu adalah : " Langkahi Dulu Mayat Saya, Baru Belanda Dapat Menguasai Padang"


TUGU BANDAR BUAT

PADANG - Pada 67 tahun lalu, sekitar dua bulan setelah diproklamasikannya Republik Indonesia di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945, pasukan sekutu yang dipimpin Mayor Anderson tiba di Emma Haven, Teluk Bayur. Mereka kemudian menduduki gedung-gedung, gudang dan barak bekas Jepang di Padang.
Bersama sekutu itu, membonceng pula NICA (Nedelandsch Indie Civil Administratie), yakni pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Tujuannya tak lain mencengkeramkan kukunya kembali setelah tiga setengah tahun lamanya hengkang dari Indonesia karena keok oleh Jepang. Waktu Jepang takluk dalam perang dunia kedua karena dibombardir sekutu, gantian Belanda tergiur lagi hendak masuk ke Indonesia.

Janji Belanda kepada sekutu waktu masuk ke Sumatera dan tempat lainnya di Indonesia adalah untuk membebaskan tawanan perang , memulangkan Jepang ke negerinya dan ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban umum hingga pemerintahan peralihan berfungsi kembali. Belanda tidak diperkenankan oleh Komando Sekutu Asia Tenggara yang disebut SEAC untuk campur tangan dalam urusan pemerintahan Republik, baik sipil maupun militer.

Demikian cerita Zulwadi Datuk Bagindo Kalih, Ketua III Dewan Harian Daerah (DHD) '45 Sumatera Barat, mengutip buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945 - 1949 di Kota Padang dan sekitarnya yang disusun Dr Mestika Zed, MA dan kawan - kawan, tahun 2002.

Waktu ditemui di Gedoeng Joeang, jalan Samudera, Padang, ia menceritakan catatan-catatan sejarah perjuangan Kota Padang tempo dulu yang dirangkum dari berbagai sumber.

Merinding juga bulu roma ketika diceritakan tentang perlawanan rakyat Padang hingga peristiwa Indarung dan Bandar Buat dibombardir Belanda dari udara.

Sejak sekutu menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda, meskipun dengan perjanjian tidak akan turut campur dalam urusan Republik, namun kurenah Belanda yang terkenal "cerdik buruk" itu malah ingin menguasai kembali Indonesia sepenuhnya. Belanda melancarkan agresi dimana-mana di wilayah Republik.

Tanggal 8 Januari 1947, pabrik semen di Indarung yang didirikan Belanda tahun 1910 dengan nama NV NIPCM (NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij ditembaki dari udara oleh beberapa pesawat Mustang Belanda.

"Masyarakat Indarung dan Padang sekitarnya waktu itu mencari perlindungan dengan membuat lubang atau lari ke perbukitan sekitar Solok dan Pesisir Selatan. Mereka terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak, ada yang lari ke pegunungan dan hutan-hutan," ujar pria yang lahir sekitar tahun 1940-an itu.

Veteran yang masih fokus memperjuangkan idealisme kebangsaan ini seperti menerawang sejenak. Lalu, katanya, tanggal 18 Januari 1947 atau 10 hari setelah pemboman Indarung, Belanda datang kembali dengan pesawat Mustang dan melancarkan serangan udaranya di Pasar Bandar Buat.

Saat itu hari Minggu, merupakan hari pasar di daerah itu. Meskipun ada versi yang mengatakan serangan itu terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, tapi ada pula catatan Angku Darwis yang dibuat tahun 1994 mengatakan itu terjadi pada pukul 10:00 WIB.
"Yang ini mungkin lebih mendekati, karena melihat faktanya yang meninggal mencapai ratusan jiwa. Pada jam itu, keadaan di pasar memang pas puncaknya keramaian orang yang datang dari berbagai penjuru sekitar Padang, Solok, Pariaman dan Pesisir Selatan," ujarnya.

"Yang bersangkutan (Angku Darwis) saat diwawancarai untuk membuat sebuah buku tahun 1994 itu sedang sakit dan dalam perawatan dokter. Namun, berkenaan dengan perisitiwa itu ia masih sanggup mengingat dan menceritakan tentang perisitiwa Bandar Buat," sela Zulwadi.

Ada pula Angku Munir yang menjadi saksi mata, lanjutnya Hingga sorenya, Angku Munir dan beberapa orang temannya bekerja keras mengumpulkan ratusan korban yang luka parah serta mayat - mayat yang tak tahu pasti jumlahnya.
"Mungkin ratusan," Zulwadi memperkirakan.

Para korban dibawa dengan pedati, alat transportasi populer masa itu. Mereka di bawa ke Lapangan Kabun, sekitar setengah kilometer dari Pasar Bandar Buat. Di tempat itu, yang luka parah segera ditangani oleh Palang Merah.

Pemandangan memiriskan waktu itu sudah dapat dibayangkan. Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak. Konon, saksi mata Angku Munir melihat banyak wanita meregang nyawa sambil mendekap anaknya yang masih bayi. Ada pula beberapa pedati yang ditarik sapi atau kerbau berjalan sendiri karena tukang pedatinya telah tewas.

"Takut akan serangan berikutnya. Setelah mengumpulkan para jenazah ke satu tempat bersama teman-temannya, Angku Munir lari ke hutan sekitar Indarung. Benar saja, pesawat Belanda kembali meraung-raung mencari sasaran bergerak di bawahnya. Rentetan tembakan terdengar lagi mulai dari Indarung, Bandar Buat dan Lubuk Begalung," tutur Datuk Bagindo Kalih dalam nada agak emosional.

Setelah beberapa hari keadaan dirasakan cukup kondusif, Angku Munir Cs tadi baru keluar dari persembunyian dan menemukan jenazah-jenazah yang tadi ditinggal sudah agak mengurai sehingga segera mereka kuburkan dalam satu lubang. Puluhan jenazah dikuburkan dalam satu lubang.

"Rupanya setelah selesai menguburkan puluhan mayat masih terdapat sekitar 40 mayat lagi yang belum dikubur menurut yang diceritakan Angku Munir dan Angku Kamar dalam catatan yang dibukukan oleh Mestika Z dan kawan - kawan," ucap Zulwadi.

Ya, itu baru satu peristiwa di Pasar Bundar Buat, belum lagi di Kamang, di Situjuh, dan Cupak serta beberapa tempat lainnya. Perlawanan rakyat dipatahkan Belanda dengan cara keji dan membabibuta. Anak - anak dan wanita menjadi korban.
"Ini adalah kejahatan perang yang dilakukan Belanda terhadap Bangsa Indonesia," ujarnya.

Mengingat sejarah itu, para korban rakyat sipil Indonesia terutama pada masa Agresi I dan Agresi II, Belanda harus meminta maaf yang diucapkan oleh Pemerintah Belanda kepada segenap Rakyat Indonesia. Perjuangan agar Belanda mau mengakui tindakan pengrusakan, perampokan, dan penindasan yang dilakukan olehnya sehingga membuat penderitaan yang amat sangat pada rakyat Indonesia.

Belanda harus kembali meringankan penderitaan mereka. Tuntutan dan perjuangan itu dilakukan terus oleh sebuah yayasan yang didirikan tanggal 4 April 2007 di Belanda dengan nama Stichting Comite Nederlandse Eresculden atau Foundation Commitee of Dutch of Honour atau dalam nama Indonesia KUKB (Komite Utang Kehormatan Belanda) yang diketuai Dhr. JM Podaag.

Yayasan ini melakukan pengumpulan data dan fakta seputar peristiwa dan korban yang terjadi masa agresi Belanda tersebut. Kepada ahli waris korban atau yang bisa dikenali sebagai keluarga korban berdasarkan verifikasi yayasan KUKB, maka berhak menerima santunan dari pemerintah Belanda melalui yayasan KUKB ini. Besaran nilai santunan yang disebutkan oleh Diki dari yayasan yang bertugas di DHD, jika dirupiahkan sekitar Rp150 juta. (derius)

"Tugu Bingkuang"

"Tugu Bingkuang" Tugu Selamat Datang Kota Padang
Tersebutlah Padang sebagai kota bengkuang. Ketika memasuki kota ini dari arah perbatasan, maka terlihatnya tugu buah bengkuang dipajang untuk menyambut setiap pendatang. Namun, mencari buah bengkuang sebenar-benarnya, susah-susah gampang. Susahnya, tidak disemua tempat buah ini diperjualbelikan. Gampangnya, buah ini sangat gampang ditemukan di emperan jalan yang menjadi terminal bayangan di Kota Padang.

Tentu ada alasan kenapa bengkuang menjadi maskotnya Kota Padang. Rasanya manis, mengandung banyak air, memang cocok mewakili topografi Kota Padang yang panas karena berada di pinggiran pantai. Alasan mendasar lainnya, ada nilai-nilai filosofis dan tentu saja karena buah ini banyak dibudidayakan yang kemudian menjadi produk khas Kota Padang. Yang terakhir ini mungkin akan jadi cerita saja. Pertanian bengkuang semakin susah ditemukan menyusul semakin tergerusnya lahan pertanian akibat perkembangan kota. Atau ada alasan lain bagi petani untuk tidak menanam bengkuang, karena harga jualnya yang tidak menjanjikan. Untuk kondisi yang terakhir ini, agaknya kontekstual dengan alasan menjadikan bengkuang sebagai maskotnya Kota Padang, karena bisa jadi suatu saat buah ini akan langka di Kota Padang, dan dengan mengenangnya sebagai maskot, itu sudah cukup menjadi sebuah kearifan sejarah.

Banyak yang pandai membuat maskot, slogan dan simbol-simbol, namun banyak yang tidak bisa menghargai dari makna-makna simbolis tersebut. Sebagai buah yang biasa dikonsumsi untuk kebutuhan yang tidak terlalu prestisius, memang tak banyak artinya buah bengkuang bila dibandingkan dengan buah-buah impor lainnya. Karena itulah, buah ini diabaikan. Namun, sesungguhnya hal yang sederhana ini menjadi luar biasa dan bernilai tinggi, apabila mampu untuk menjadikannya lebih bernilai.




TUGU ADIPURA


Kota Padang mendapat piala Adipura untuk pertama kalinya pada tahun 1986 dari Presiden Soeharto atas prestasinya menjadi salah satu kota terbersih di Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1991 kota ini juga memperoleh Adipura Kencana.


No comments:

Post a Comment

Horoskop